STRATEGI ANTI-ACCESS/AREA DENIAL (A2/AD) TIONGKOK DI LAUT CHINA SELATAN: IMPLIKASI TERHADAP OPERATIONAL ART DAN OPERASI TNI ANGKATAN LAUT

Authors

  • James Firman Gohan Siagian Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut Author

Keywords:

Anti-Access/Area Denial, Laut China Selatan, Laut Natuna Utara, operational art, operasi TNI AL, ISR, grey-zone

Abstract

Penguatan kapabilitas Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Tiongkok di Laut China Selatan (LCS) menimbulkan persoalan tersendiri bagi kepentingan pertahanan Indonesia. Relevansinya paling nyata di Laut Natuna Utara, yang secara geografis berdekatan dengan kawasan yang oleh Tiongkok dikaitkan dengan klaim “nine-dash line”. Penelitian ini membahas konsep dan instrumen A2/AD serta konsekuensinya bagi operational art dan operasi TNI Angkatan Laut (TNI AL), dengan menggunakan dinamika insiden di Laut Natuna Utara selama 2024–2026 sebagai konteks empiris. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan studi literatur. Bahan analisis berasal dari artikel ilmiah, dokumen dan publikasi resmi, laporan lembaga kajian, serta pemberitaan yang digunakan dalam naskah sumber. Bahan tersebut kemudian dibaca dengan menelusuri hubungan antara kemampuan A2/AD, perubahan kondisi operasi, kerentanan yang muncul, dan pilihan respons TNI AL. Hasil kajian memperlihatkan bahwa A2/AD tidak berdiri pada satu jenis senjata. Rudal anti-kapal jarak jauh, kapal selam, sensor, dan kekuatan udara membentuk bagian dari lingkungan ancaman yang sama; di lapangan, tekanan tersebut dapat beriringan dengan kehadiran kapal penjaga pantai dan praktik grey-zone. Insiden yang melibatkan CCG 5402 pada Oktober 2024, serta laporan aktivitas kapal penjaga pantai Tiongkok pada 2026, memperlihatkan bahwa tekanan terhadap kebebasan manuver dan situational awareness dapat berlangsung berulang tanpa segera berubah menjadi konflik terbuka. Atas temuan tersebut, penguatan ISR dan maritime domain awareness, interoperabilitas TNI AL–Bakamla, distributed maritime operations, survivability, serta pertahanan berlapis menjadi kebutuhan yang menonjol. Keseluruhannya perlu ditempatkan dalam pendekatan operasi yang terintegrasi dan terukur. Inti persoalannya bukan sekadar menambah alutsista. Pembangunan kapabilitas perlu dikaitkan sejak awal dengan tujuan operasi, sehingga TNI AL memiliki operational approach yang memungkinkan Indonesia mempertahankan kebebasan bertindak ketika berhadapan dengan tekanan A2/AD.

References

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. (2018). Doktrin TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/503/V/2018.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. (2026, 6 Juli). Kasal pimpin Uji Naskah III Doktrin TNI AL Jalesveva Jayamahe, perkuat landasan operasi maritim modern. https://www.tnial.mil.id/

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. (2026, 11 Juni). Perkuat landasan strategis maritim, Wakasal pimpin Uji Naskah II Doktrin TNI AL Jalesveva Jayamahe. https://www.tnial.mil.id/

Antara News Mataram. (2026, 3 Juli). Pemerintah China jelaskan kapal penjagapantai masuki Laut Natuna Utara. https://mataram.antaranews.com

Hanafiah, R., dkk. (2025). Dikutip dalam Dinamika ancaman dan respon pertahanan di Laut Natuna Utara: Studi kualitatif. Jurnal Sains dan Teknologi Maritim (JSTM), 26(2).

InfoPublik. (2024, 22 Oktober). Bakamla RI berhasil usir kapal Coast Guard China di Laut Natuna Utara. https://infopublik.id

Jawa Pos. (2024, 21 Oktober). Bakamla usir kapal Coast Guard Tiongkok di Laut Natuna Utara, ini penyebabnya. https://www.jawapos.com

Institute for Security and Strategic Studies (ISDS). (2026, 8 Juli). Catatan Doktrin Perisai Trisula Nusantara. https://www.isds.co.id

Jurnal Ilmu Maritim (JIM). (2025–2026). Vol. 4, No. 5, Desember 2025–Januari 2026. https://greenpub.org/JIM

Kompas.com. (2026, 3 Juli). TNI pakai doktrin baru: Perisai Trisula Nusantara. https://nasional.kompas.com

kumparan.com. (2026, 16 Mei). LCS 2026: Patroli Spratly dan ancaman kedaulatan Indonesia di Natuna. https://kumparan.com

Mongabay Indonesia. (2024, 6 November). Konflik Laut Natuna: Bakamla RI berhasil usir Coast Guard China, bagaimana selanjutnya? https://mongabay.co.id

Museum Pusat TNI Angkatan Laut “Jalesveva Jayamahe”. (t.t.). Semboyan resmi TNI Angkatan Laut “Jalesveva Jayamahe”. https://www.indonesia.travel

Prakoso, L. Y., Widodo, P., Prihantoro, M., Suwarno, P., & Soemantri, A. I. (2025). Ancaman keamanan maritim. Widina Media Utama.

Qosimah, H., & Suhatro, B. (2024). Penilaian ancaman Tiongkok di Laut Natuna Utara menggunakan analisis PEST. Indonesian Maritime Journal, 12(3), 34–47.

Rachmawati, D. P. (2024). Melampaui garis batas: Mengeksplorasi kompleksitas sengketa maritim antara Indonesia dan Cina di Laut Natuna. Pubmedia Social Sciences and Humanities, 2(1).

Romdhon, M. F., Wiranto, S., Yusnaldi, Y., Puji, A., Suwarno, P., & Bandono, A. (2024). Penegakan hukum terhadap kapal ikan asing di Zona Ekonomi Eksklusif Laut Natuna Utara.

Sudiro, P. A. S., & Rizqoh, E. A. (2024). Konsep interoperabilitas TNI AL–Bakamla di Laut Natuna Utara.

TNI (Tentara Nasional Indonesia). (2026, 2 Juli). Panglima TNI pimpin pengesahan Doktrin “Perisai Trisula Nusantara”, tegaskan adaptasi TNI hadapi perang modern. https://tni.mil.id

Downloads

Published

2026-06-07

How to Cite

STRATEGI ANTI-ACCESS/AREA DENIAL (A2/AD) TIONGKOK DI LAUT CHINA SELATAN: IMPLIKASI TERHADAP OPERATIONAL ART DAN OPERASI TNI ANGKATAN LAUT. (2026). JURNAL ILMIAH KAJIAN KEANGKATANLAUTAN, 8(2), 66-78. https://jurnalseskoal.id/index.php/jikk/article/view/107